Minggu, 07 Juni 2015

pengertian ulumul Qur'an

I.       pendahuluan
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang pertama bagi ummat Islam yang bagi kaum Muslimin adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Kitab suci ini memiliki kekuatan luar biasa yang berada di luar kemampuan apapun.[1] Ayat-ayatnya telah berinteraksi dengan budaya dan perkembangan masyarakat yang dijumpainya. Kendati demikian, nilai-nilai yang diamanahkannya dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi.[2]
Dan kandungan pesan Ilahi yang disampaikan Nabi pada permulaan abad ke-7 itu, telah meletakkan baik untuk kehidupan individual dan sosial kaum-mulimin dalam segala aspeknya. Bahkan, masyarakat muslim mangawali eksistensinya dan memperoleh kekuatan hidup dengan merespon dakwah Al-Qur’an, itulah sebabnya, Al-Qur’an berada tepat di jantung kepercayaan muslim[3]
Lebih dari pada itu setidaknya Al-Qur’an dapat difungsikan oleh Manusia di bumi ini, sebagai sumber ajaran dan bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw. dimana Al-Qur’an memberikan berbagai norma keagamaan sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang merupakan akhir dari perjalanan hidup meraka.Makalah ini akan membahas tentang ketertiban surah-surah dan ayat-ayat dalam al-Qur’an, penulis sadar bahwa makalah ini masih dari kata sempurna. Untuk itu kami minta kritik dan saran yang membangun.[4]


II.    Penertiban Qur’an
A.    Tertib Ayat
Sebelum lebih jauh kita membahas tentang “Tartib Ayat”, dan mengemukakan beberapa pendapat para ahli dibidangnya, penulis lebih dahulu memaparkan pengertian “Tartib Ayat” itu sendiri, untuk membantu kita dalam memahami isi kandungan al-Qur’an atau orang lain yang membaca tulisan ini, maka lebih baik jika kita uraikan arti daripada tartib ayat.
“Tartib Ayat” adalah merupakan istilah dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu, kata “Tartib” dan kata “Ayat”. Kata Tartib dalam kamus Al-Kautsar, merupakan isim masdar dari kata ra-ta-ba (رتب) yang artinya urut-urutan atau peraturan.[5]
Sedangkan kata “Ayat” mempunyai definisi-definisi yang banyak sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ulama dari berbagai keahlian dalam bidang Bahasa, Ilmu Kalam, Usul Fiqh dan sebagainya. Namun definisi-definisi tersebut tentu berbeda antara satu dengan yang lain, karena Stressing (penekanan-Nya) berbeda-beda disebabkan perbedaan keahlian mereka.
Ayat secara etimologi (bahasa) ada beberapa pengertian diantaranya yaitu:[6]
1.      Mukjizat, sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 211:
سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ ءَاتَيْنَاهُمْ مِنْ ءَايَةٍ بَيِّنَةٍوَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُالْعِقَابِ)
Tanyakan kepada Bani Israil: Berapa banyaknya mukjizat yang nyata, yang telah kami berikan kepada Mereka[7]
2.      Tanda (alamat), sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 248 :
….. إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
 …Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut[8] kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu…[9]
3.      Pelajaran (peringatan), sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 13:
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada pelajaran bagi orang-orag yang mempunyai penglihatan mata hati
4.      Suatu hal yang sangat menakjubkan (mengherankan), sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun ayat 50:
وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ 
Dan telah kami jadikan Isa Putra Maryam beserta Ibunya suatu kejadian yang menakjubkan (yang membuktikan kekuasaan Allah)…[10]
5.      Kelompok (kumpulan), sebagaimana dalam ucapan orang Arab:
خرج القوم بآيآتهم
“Kaum itu keluar dengan seluruh kelompoknya, tidak ada seorang pun yang tertinggal”.
6.      Bukti (Dalil), Sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-rum ayat 22:
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
Dan diantara bukti-bukti adanya Allah dan kekuasaannya ialah dia menciptakan langit dan bumi berlain-lainnan bahasamu dan warnamu…[11]
Sedangkan pengertian “ayat” secara Terminologi adalah:[12]
a.       menurut Manna al-Qattan dalam bukunya “Mabahits fi Ulumil Qur’an” pengertian ”ayat”[13] adalah: Sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah surat dari Qur’an.
b.      dikemukakan oleh Taufik Adnan Amal “ayah” (jamaknya: ayaat), didalam al-Qur’an dapat dikelompokkan ke dalam empat konteks (siyaq).[14]

B.     Tartib Surat
Pengertian “Surat” juga mempunyai pendifinisian-pendifinisian dari berbagai ahli diantaranya:
Pengertian “surat” Menurut Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya Pengantar Uluml Qur’an adalah:“Sekelompok (sekumpulan) ayat-ayat al-Qur’an yang berdiri sendiri, yang mempunyai permulaan dan penghabisan”.
Sedangkan menurut Manna al-Qattan, pengertian “surat”[15] adalah: sejumlah ayat Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.[16] Sedangkan istilah “surah” menurut Taufik merupakan nama yang digunakan untuk merujuk “bab” al-Qur’an yang seluruhnya berjumlah 114 (menurut perhitungan mushaf Ustmani yang disepakati). Sebagaimana kata surah muncul sembilan kali didalam al-Qur’an dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk jamak (suwar).[17]
Mengenai tertib surah, ulama berbeda pendapat:
a.       Tertib surah dalam al-Qur’an adalah taukify dan ditangani langsung oleh Rasulullah sebagaimana diberitahukan oleh Jibril kepadanya atas perintah Allah. Dengan demikian al-Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya, seperti yang di tangan kita sekarang ini yaitu Rasm Usmany yang tidak seorang sahabatpun membantahnya.
b.      Tertiba surah itu melalui ijtihad para sahabat, mengingat adanya perbedaan tertib di dalam mushaf-mushaf mereka.
1)      Mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan Iqra, Mudatsir, Nun, Qalam, dan Muzammil dan seterusnya hingga akhir surah Makki dan Madani.
2)      Mushaf Ibnu Mas’ud yang diawali dengan surat al-Baqarah, an-Nisaa’, kemudian Ali Imran
3)      Mushaf Ubay ibn Ka’ab diwali denga surat al-Fatihah, al-Baqarah, an-Nisaa’, kemudian Ali ‘Imran
c.       Sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lagi berdasarkan ijtihad para sahabat. Ibn Hajar mengatakan: “Tertib sebagian surah-surah atau sebagian besarnya itu tidak dapat ditolak sebagai sifat tauqifi [18]

III.           Penutup
A.    Kesimpulan
Ayat adalah Suatu kumpulan kata yang mempunyai awal dan akhir, yang termasuk didalam suatu surat dari al-Qur’an. Tertib ayat adalah semua ayat yang berada pada tempatnya sendiri dalam suatu surat. Tertib atau urutan ayat-ayat al-Qur’an adalah taukify, ketentuan dari Rasulullah SAW. Sebagian ulama meriwayatkan bahwa pendapat itu adalah ijma’.
Surah adalah Sekelompok (sekumpulan) ayat-ayat al-Qur’an yang berdiri sendiri, yang mempunyai permulaan dan penghabisan. Tertib surah adalah semua surat yang terdapat di dalam al-qur’an berada pada posisinya masing-masing dan susunan ini telah ditetapkan dengan ijtihad, sehingga hukum membacanya secara berurutan tidaklah wajib. Ulama berbeda pendapat mengenai tartibul suwar ini, jumhur ulama berpendapat bahwa tartibul suwar merupakan taukify, yang lainnya berpendapat hal itu adalah ijtihadi, sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa sebagiannya taukify dan sebagian yang lain adalah ijtihadi.



Daftar pustaka
Al-Qur’an
Amal, Taufik Adnan. Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, Yogyakarta: FkBA, 2001.
Habsyi (al), Husin. Kamus al-Kautsar Arab – Indonesia, (Surabaya: Darussagaf PP Alawy, 1977
Shihab, M. Quraish. Sejarah dan Ulumul Qur`an, Jakarta:Pustaka Firdaus, 2001.
Qattan (al), Manna Khalil. Studi Ilmu-ilmu al-Qur`an, Alih Bahasa; Drs. Mudzakir AS,
Zuhdi, Masjfuk. Pengantar Ulumul Qur`an, Surabaya: CV. Karya Abditama, 1997.




[1] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an (Yogyakarta: FkBA, 2001), I: 1
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur`an, Vol. 2 (Jakarta; Lentera hati, 2006), V: viii
[3] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, (Yogyakarta: FkBA, 2001), I: 1
[4] M. Quraish Shihab, Sejarah dan Ulumul Qur`an, (Jakarta:Pustaka Firdaus, 2001), 75
[5] Husin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar Arab – Indonesia, (Surabaya: Darussagaf PP Alawy, 1977), 122
[6] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur`an, (Surabaya: CV. Karya Abditama, 1997), V: 1
[7] Al-Qur’an
[8] Tabut adalah peti tempat Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka
[9] Al-Qur’an
[10] Al-Qur’an
[11] Al-Qur’an
[12] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur`an, (Surabaya: CV. Karya Abditama, 1997), V: 135
[13] الأية هي: الجملة من كلام الله المندرجة في سورة من القرآن
[14] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, (Yogyakarta: FkBA, 2001), I: 48-49
[15] السورة هي: الجملة من آيات القرآن ذات المطلع والمنقطع
[16] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Qur`an, Alih Bahasa; Drs. Mudzakir AS, 205
[17] Penggunaan istilah surat didalam al-Qur`an merujuk kepada suatu unit wahyu yang “diturunkan” tuhan bukan dalam pengertian “surat” yang dipahami dewasa ini
[18] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, (Yogyakarta: FkBA, 2001), 49




Minggu, 31 Maret 2013

7 alasan tidak berjilbab


7 alasan tidak berjilbab… (must read..!! )
Bismillah,
Bila anda seorang muslimah dewasa dan masih belum menutup auratnya dengan hijab dan jilbab yang benar, maka ada baiknya merenungkan kembali alasan anda dengan menyimak dialog pemikiran dbawah ini.
ALASAN I : Saya belum benar-benar yakin akan fungsi/kegunaan jilbab..Kami kemudian menanyakan dua pertanyaan kepada saudari ini; 
Pertama, apakah ia benar-benar percaya dan mengakui kebenaran agama Islam? Dengan alami ia berkata, Ya, sambil kemudian mengucap Laa Ilaa ha Illallah! Yang menunjukkan ia taat pada aqidahnya dan Muhammadan rasullullah! Yang menyatakan ia taat pada syariahnya. Dengan begitu ia yakin akan Islam beserta seluruh hukumnya. Kedua, kami menanyakan; Bukankah memakai jilbab termasuk hukum dalam Islam? Apabila saudari ini jujur dan dan tulus dalam ke-Islamannya, ia akan berkata; Ya, itu adalah sebagian dari hukum Islam yang tertera di Al-Quran suci dan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang suci. Jadi kesimpulannya disini, apabila saudari ini percaya akan Islam dan meyakininya, mengapa ia tidak melaksanakan hukum dan perintahnya?
ALASAN II : 
Saya yakin akan pentingnya jilbab namun Ibu saya melarangnya, dan apabila saya melanggar ibu, saya akan masuk neraka.Yang telah menjawab hal ini adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla termulia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam nasihatnya yang sangat bijaksana; “Tiada kepatuhan kepada suatu ciptaan diatas kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR Ahmad). Sesungguhnya, status orangtua dalam Islam, menempati posisi yang sangat tinggi dan terhormat. 
Dalam sebuah ayat disebutkan; “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang Ibu Bapak . . “ (QS. An-Nisa:36). Kepatuhan terhadap orangtua tidak terbatas kecuali dalam satu aspek, yaitu apabila berkaitan dengan kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman; “dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…(QS. Luqman : 15)
Berbuat tidak patuh terhadap orangtua dalam menjalani perintah AllahSubhanahu wa Ta’alatidak menyebabkan kita dapat berbuat seenaknya terhadap mereka. Kita tetap harus hormat dan menyayangi mereka sepenuhnya. Allah berfirman di ayat yang sama; “dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Kesimpulannya, bagaimana mungkin kamu mematuhi ibumu namun melanggar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan kamu dan ibumu.
ALASAN III : 
Posisi dan lingkungan saya tidak membolehkan saya memakai jilbab..Saudari ini mungkin satu diantara dua tipe: dia tulus dan jujur, atau sebaliknya, ia seorang yang membohongi dirinya sendiri dengan mengatasnamakan lingkungan pekerjaannya untuk tidak memakai jilbab. Kita akan memulai dengan menjawab tipe dia adalah wanita yang tulus dan jujur. 
“Apakah anda tidak tidak menyadari saudariku tersayang, bahwa wanita muslim tidak diperbolehkan untuk meninggalkan rumah tanpa menutupi auratnya dengan hijab dan adalah kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya? Apabila engkau, saudariku, menghabiskan banyak waktu dan tenagamu untuk melakukan dan mempelajari berbagai macam hal di dunia ini, bagaimana mungkin engkau dapat sedemikian cerobohnya untuk tidak mempelajari hal-hal yang akan menyelamatkanmu dari kemarahan Allah dan kematianmu?” Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman; “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui (QS An-Nahl : 43). Belajarlah untuk mengetahui hikmah menutup auratmu. Apabila kau harus keluar rumahmu, tutupilah auratmu dengan jilbab, carilah kesenangan Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada kesenangan syetan. Karena kejahatan dapat berawal dari pemandangan yang memabukkan dari seorang wanita.
Saudariku tersayang, apabila kau benar-benar jujur dan tulus dalam menjalani sesuatu dan berusaha, kau akan menemukan ribuan tangan kebaikan siap membantumu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat segala permasalahan mudah untukmu. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’alatelah berfirman; “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..”(QS. AtTalaq :2-3). Kedudukan dan kehormatan adalah sesuatu yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tidak bergantung pada kemewahan pakaian yang kita kenakan, warna yang mencolok, dan mengikuti trend yang sedang berlaku. Kehormatan dan kedudukan lebih kepada bersikap patuh pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan bergantung pada hukum Allah yang murni. Dengarkanlah kalimat Allah; “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu..”(QS. Al-Hujurat:13).Kesimpulannya, lakukanlah sesuatu dengan mencari kesenangan dan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berikan harga yang sedikit pada benda-benda mahal yang dapat menjerumuskanmu.
ALASAN IV : Udara di daerah saya amatlah panas dan saya tidak dapat menahannya. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasinya apalagi jika saya memakai jilbab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan perumpamaan dengan mengatakan; “api neraka jahannam itu lebih lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui..”(QS At-Taubah : 81). Bagaimana mungkin kamu dapat membandingkan panas di daerahmu dengan panas di neraka jahannam? Sesungguhnya saudariku, syetan telah mencoba membuat tali besar untuk menarikmu dari panasnya bumi ini kedalam panasnya suasana neraka. Bebaskan dirimu dari jeratannya dan cobalah untuk melihat panasnya matahari sebagai anugerah, bukan kesengsaraan. Apalagi mengingat bahwa intensitas hukuman dari Allah akan jauh lebih berat dari apa yang kau rasakan sekarang di dunia fana ini. Kembalilah pada hukum Allah dan berlindunglah dari hukuman-Nya, sebagaimana tercantum dalam ayat; “mereka tidak merasakan kesejukan didalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah” (QS. AN-NABA 78:24-25). Kesimpulannya, surga yang Allah janjikan, penuh dengan cobaan dan ujian. Sementara jalan menuju neraka penuh dengan kesenangan, nafsu dan kenikmatan.
ALASAN V : 
Saya takut, bila saya memakai jilbab sekarang, di lain hari saya akan melepasnya kembali, karena saya melihat banyak sekali orang yang begitu.Kepada saudari itu saya berkata, “apabila semua orang mengaplikasikan logika anda tersebut, mereka akan meninggalkan seluruh kewajibannya pada akhirnya nanti! Mereka akan meninggalkan shalat lima waktu karena mereka takut tidak dapat melaksanakan satu saja waktu shalat itu. Mereka akan meninggalkan puasa di bulan ramadhan, karena mereka takut tidak dapat menunaikan satu hari ramadhan saja di bulan puasa, dan seterusnya. 
Tidakkah kamu melihat bagaimana syetan telah menjebakmu lagi dan memblokade petunju bagimu? Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai ketaatan yang berkesinambungan walaupun hanya suatu ketaatan yang sangat kecil atau dianjurkan. Lalu bagaimana dengan sesuatu yang benar-benar diwajibkan sebagaimana kewajiban memakai jilbab? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda; “Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan mulia yang terus menerus, yang mungkin orang lain anggap kecil.” 
Mengapa kamu saudariku, tidak melihat alasan mereka yang dibuat-buat untuk menanggalkan kembali jilbab mereka dan menjauhi mereka? Mengapa tidak kau buka tabir kebenaran dan berpegang teguh padanya? Allah Subhanahu wa Ta’ala sesungguhnya telah berfirman; “maka kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang di masa kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. AL BAQARAH 2:66). Kesimpulannya, apabila kau memang teguh petunjuk dan merasakan manisnya keimanan, kau tidak akan meninggalkan sekali pun perintah Allah setelah kau melaksanakannya.
ALASAN VI : Apabila saya memakai jilbab, maka jodohku akan sulit, jadi aku akan memakainya nanti setelah menikah.
Saudariku, suami mana pun yang lebih menyukaimu tidak memakai jilbab dan membiarkan auratmu di depan umum, berarti dia tidak mengindahkan hukum dan perintah Allah dan bukanlah suami yang berharga sejak semula. Dia adalah suami yang tidak memiliki perasaan untuk melindungi dan menjaga perintah Allah , dan jangan pernah berharap tipe suami seperti ini akan menolongmu menjauhi api neraka, apalagi memasuki surga Allah . 
Sebuah rumah yang dipenuhi dengan ketidak-taatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan selalu menghadapi kepedihan dan kemalangan di dunia kini dan bahkan di akhirat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda; “dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. TAHA 20:124). Pernikahan adalah sebuah pertolongan dan keberkahan dari Allah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Berapa banyak wanita yang ternyata menikah sementara mereka yang tidak memakai jilbab tidak?
Apabila kau, saudariku tersayang, mengatakan bahwa ketidak-tertutupanmu kini adalah suatu jalan menuju sesuatu yang murni, asli, yaitu pernikahan. Tidak ada ketertutupan. Saudariku, suatu tujuan yang murni, tidak akan tercapai melalui jalan yang tidak murni dan kotor dalam Islam. Apabila tujuannya bersih dan murni, serta terhormat, maka jalan menuju kesana pastilah harus dicapai dengan bersih dan murni pula. Dalam syariat Islam kita menyebutnya : Alat atau jalan untuk mencapai sesuatu, tergantung dari peraturan yang ada untuk mencapai tujuan tersebut. Kesimpulannya, tidak ada keberkahan dari suatu perkawinan yang didasari oleh dosa dan kebodohan.
ALASAN VII : Saya tidak memakai jilbab berdasarkan perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala : “dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS.Ad-Dhuhaa 93: 11). 
Bagaimana mungkin saya menutupi anugerah Allah berupa kulit mulus dan rambutku yang indah?Jadi saudari kita ini mengacu pada Kitab Allah selama itu mendukung kepentingannya dan pemahamannya sendiri ! ia meninggalkan tafsir sesungguhnya dibelakang ayat itu apabila hal itu tidak menyenangkannya. Apabila yang saya katakan ini salah, mengapa saudari kita ini tidak mengikuti ayat : “janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang nampak daripadanya” (QS An-Nur 24: 31] dan sabda Allah Subhanahu wa Ta’ala: “katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya..” (QS Al-Ahzab 33:59).
 Dengan pernyataan darimu itu, saudariku, engkau telah membuat syariah sendiri bagi dirimu, yang sesungguhnya telah dilarang oleh Allah, yang disebut at-tabarruj dan as-sufoor. Berkah terbesar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi kita adalah iman dan hidayah, yang diantaranya adalah menggunakan hijab. Mengapa kamu tidak mempelajari dan menelaah anugerah terbesar bagimu ini? Kesimpulannya, apakah ada anugerah dan pertolongan terhadap wanita yang lebih besar daripada petunjuk dan hijab?

video tarian man mozar