Minggu, 07 Juni 2015

pengertian ulumul Qur'an

I.       pendahuluan
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang pertama bagi ummat Islam yang bagi kaum Muslimin adalah kalamullah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Kitab suci ini memiliki kekuatan luar biasa yang berada di luar kemampuan apapun.[1] Ayat-ayatnya telah berinteraksi dengan budaya dan perkembangan masyarakat yang dijumpainya. Kendati demikian, nilai-nilai yang diamanahkannya dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi.[2]
Dan kandungan pesan Ilahi yang disampaikan Nabi pada permulaan abad ke-7 itu, telah meletakkan baik untuk kehidupan individual dan sosial kaum-mulimin dalam segala aspeknya. Bahkan, masyarakat muslim mangawali eksistensinya dan memperoleh kekuatan hidup dengan merespon dakwah Al-Qur’an, itulah sebabnya, Al-Qur’an berada tepat di jantung kepercayaan muslim[3]
Lebih dari pada itu setidaknya Al-Qur’an dapat difungsikan oleh Manusia di bumi ini, sebagai sumber ajaran dan bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw. dimana Al-Qur’an memberikan berbagai norma keagamaan sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang merupakan akhir dari perjalanan hidup meraka.Makalah ini akan membahas tentang ketertiban surah-surah dan ayat-ayat dalam al-Qur’an, penulis sadar bahwa makalah ini masih dari kata sempurna. Untuk itu kami minta kritik dan saran yang membangun.[4]


II.    Penertiban Qur’an
A.    Tertib Ayat
Sebelum lebih jauh kita membahas tentang “Tartib Ayat”, dan mengemukakan beberapa pendapat para ahli dibidangnya, penulis lebih dahulu memaparkan pengertian “Tartib Ayat” itu sendiri, untuk membantu kita dalam memahami isi kandungan al-Qur’an atau orang lain yang membaca tulisan ini, maka lebih baik jika kita uraikan arti daripada tartib ayat.
“Tartib Ayat” adalah merupakan istilah dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu, kata “Tartib” dan kata “Ayat”. Kata Tartib dalam kamus Al-Kautsar, merupakan isim masdar dari kata ra-ta-ba (رتب) yang artinya urut-urutan atau peraturan.[5]
Sedangkan kata “Ayat” mempunyai definisi-definisi yang banyak sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ulama dari berbagai keahlian dalam bidang Bahasa, Ilmu Kalam, Usul Fiqh dan sebagainya. Namun definisi-definisi tersebut tentu berbeda antara satu dengan yang lain, karena Stressing (penekanan-Nya) berbeda-beda disebabkan perbedaan keahlian mereka.
Ayat secara etimologi (bahasa) ada beberapa pengertian diantaranya yaitu:[6]
1.      Mukjizat, sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 211:
سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ ءَاتَيْنَاهُمْ مِنْ ءَايَةٍ بَيِّنَةٍوَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُالْعِقَابِ)
Tanyakan kepada Bani Israil: Berapa banyaknya mukjizat yang nyata, yang telah kami berikan kepada Mereka[7]
2.      Tanda (alamat), sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 248 :
….. إِنَّ ءَايَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
 …Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut[8] kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu…[9]
3.      Pelajaran (peringatan), sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 13:
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada pelajaran bagi orang-orag yang mempunyai penglihatan mata hati
4.      Suatu hal yang sangat menakjubkan (mengherankan), sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun ayat 50:
وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَى رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ 
Dan telah kami jadikan Isa Putra Maryam beserta Ibunya suatu kejadian yang menakjubkan (yang membuktikan kekuasaan Allah)…[10]
5.      Kelompok (kumpulan), sebagaimana dalam ucapan orang Arab:
خرج القوم بآيآتهم
“Kaum itu keluar dengan seluruh kelompoknya, tidak ada seorang pun yang tertinggal”.
6.      Bukti (Dalil), Sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an surat al-rum ayat 22:
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
Dan diantara bukti-bukti adanya Allah dan kekuasaannya ialah dia menciptakan langit dan bumi berlain-lainnan bahasamu dan warnamu…[11]
Sedangkan pengertian “ayat” secara Terminologi adalah:[12]
a.       menurut Manna al-Qattan dalam bukunya “Mabahits fi Ulumil Qur’an” pengertian ”ayat”[13] adalah: Sejumlah kalam Allah yang terdapat dalam sebuah surat dari Qur’an.
b.      dikemukakan oleh Taufik Adnan Amal “ayah” (jamaknya: ayaat), didalam al-Qur’an dapat dikelompokkan ke dalam empat konteks (siyaq).[14]

B.     Tartib Surat
Pengertian “Surat” juga mempunyai pendifinisian-pendifinisian dari berbagai ahli diantaranya:
Pengertian “surat” Menurut Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya Pengantar Uluml Qur’an adalah:“Sekelompok (sekumpulan) ayat-ayat al-Qur’an yang berdiri sendiri, yang mempunyai permulaan dan penghabisan”.
Sedangkan menurut Manna al-Qattan, pengertian “surat”[15] adalah: sejumlah ayat Qur’an yang mempunyai permulaan dan kesudahan.[16] Sedangkan istilah “surah” menurut Taufik merupakan nama yang digunakan untuk merujuk “bab” al-Qur’an yang seluruhnya berjumlah 114 (menurut perhitungan mushaf Ustmani yang disepakati). Sebagaimana kata surah muncul sembilan kali didalam al-Qur’an dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk jamak (suwar).[17]
Mengenai tertib surah, ulama berbeda pendapat:
a.       Tertib surah dalam al-Qur’an adalah taukify dan ditangani langsung oleh Rasulullah sebagaimana diberitahukan oleh Jibril kepadanya atas perintah Allah. Dengan demikian al-Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya, seperti yang di tangan kita sekarang ini yaitu Rasm Usmany yang tidak seorang sahabatpun membantahnya.
b.      Tertiba surah itu melalui ijtihad para sahabat, mengingat adanya perbedaan tertib di dalam mushaf-mushaf mereka.
1)      Mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan Iqra, Mudatsir, Nun, Qalam, dan Muzammil dan seterusnya hingga akhir surah Makki dan Madani.
2)      Mushaf Ibnu Mas’ud yang diawali dengan surat al-Baqarah, an-Nisaa’, kemudian Ali Imran
3)      Mushaf Ubay ibn Ka’ab diwali denga surat al-Fatihah, al-Baqarah, an-Nisaa’, kemudian Ali ‘Imran
c.       Sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lagi berdasarkan ijtihad para sahabat. Ibn Hajar mengatakan: “Tertib sebagian surah-surah atau sebagian besarnya itu tidak dapat ditolak sebagai sifat tauqifi [18]

III.           Penutup
A.    Kesimpulan
Ayat adalah Suatu kumpulan kata yang mempunyai awal dan akhir, yang termasuk didalam suatu surat dari al-Qur’an. Tertib ayat adalah semua ayat yang berada pada tempatnya sendiri dalam suatu surat. Tertib atau urutan ayat-ayat al-Qur’an adalah taukify, ketentuan dari Rasulullah SAW. Sebagian ulama meriwayatkan bahwa pendapat itu adalah ijma’.
Surah adalah Sekelompok (sekumpulan) ayat-ayat al-Qur’an yang berdiri sendiri, yang mempunyai permulaan dan penghabisan. Tertib surah adalah semua surat yang terdapat di dalam al-qur’an berada pada posisinya masing-masing dan susunan ini telah ditetapkan dengan ijtihad, sehingga hukum membacanya secara berurutan tidaklah wajib. Ulama berbeda pendapat mengenai tartibul suwar ini, jumhur ulama berpendapat bahwa tartibul suwar merupakan taukify, yang lainnya berpendapat hal itu adalah ijtihadi, sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa sebagiannya taukify dan sebagian yang lain adalah ijtihadi.



Daftar pustaka
Al-Qur’an
Amal, Taufik Adnan. Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, Yogyakarta: FkBA, 2001.
Habsyi (al), Husin. Kamus al-Kautsar Arab – Indonesia, (Surabaya: Darussagaf PP Alawy, 1977
Shihab, M. Quraish. Sejarah dan Ulumul Qur`an, Jakarta:Pustaka Firdaus, 2001.
Qattan (al), Manna Khalil. Studi Ilmu-ilmu al-Qur`an, Alih Bahasa; Drs. Mudzakir AS,
Zuhdi, Masjfuk. Pengantar Ulumul Qur`an, Surabaya: CV. Karya Abditama, 1997.




[1] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an (Yogyakarta: FkBA, 2001), I: 1
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur`an, Vol. 2 (Jakarta; Lentera hati, 2006), V: viii
[3] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, (Yogyakarta: FkBA, 2001), I: 1
[4] M. Quraish Shihab, Sejarah dan Ulumul Qur`an, (Jakarta:Pustaka Firdaus, 2001), 75
[5] Husin al-Habsyi, Kamus al-Kautsar Arab – Indonesia, (Surabaya: Darussagaf PP Alawy, 1977), 122
[6] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur`an, (Surabaya: CV. Karya Abditama, 1997), V: 1
[7] Al-Qur’an
[8] Tabut adalah peti tempat Taurat yang membawa ketenangan bagi mereka
[9] Al-Qur’an
[10] Al-Qur’an
[11] Al-Qur’an
[12] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur`an, (Surabaya: CV. Karya Abditama, 1997), V: 135
[13] الأية هي: الجملة من كلام الله المندرجة في سورة من القرآن
[14] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, (Yogyakarta: FkBA, 2001), I: 48-49
[15] السورة هي: الجملة من آيات القرآن ذات المطلع والمنقطع
[16] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu al-Qur`an, Alih Bahasa; Drs. Mudzakir AS, 205
[17] Penggunaan istilah surat didalam al-Qur`an merujuk kepada suatu unit wahyu yang “diturunkan” tuhan bukan dalam pengertian “surat” yang dipahami dewasa ini
[18] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah al-Qur`an, (Yogyakarta: FkBA, 2001), 49